...وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ ... قال الله : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما ... مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ ...

Minggu, 25 April 2010

Misteri Huruf W - Lafadz Allah di Awan Sebelum Penggusuran Makam Mbah Priok (Kisah Kekeramatan Makam Mbah Priok


Foto Tempo/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Jakarta - Hari masih pagi di kompleks Makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad (1727-1756), Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Sekitar 200 santri berkumpul di halaman makam guna “menyambut” tamu mereka: 4000 Satuan Polisi Pamong Praja


Karena tamu dianggap hendak menghancurkan kompleks makam keramat, santri mempersiapkan diri dengan berbagai senjata. Mulai bambu runcing, kayu yang dilengkapi paku, celurit, golok dan samurai.

Diantara lantunan Shalawat Badar, persiapan perang mereka terhenti oleh teriakan salah satu santri: “Allahu Akbar”. Di ufuk timur, terbentang awan berlafaz “Allah”.

Dari foto yang direkam dengan kamera telepon genggam, awan itu memang tidak sepenuhnya berbentuk Allah. Lebih menyerupai huruf “w”. Tapi penampakan itu cukup untuk membangkitkan semangat penjaga makam. “Kami yakin Allah bersama kami,” kata Habib Alwi Al-Hadad, 46 tahun, seorang ahli waris makam kepada Tempo, Kamis (15/4).
Mungkin semangat itu juga yang membuat para santri berani menghadapi penyerang yang jumlahnya 20 kali lebih banyak. Batu-batu yang dilayangkan ke tubuh-tubuh kerempeng itu tidak sedikit pun menyakiti mereka.

Seorang wartawan yang melihat kejadian menuturkan buldozer sempat meruntuhkan tembok di kanan-kiri gapura yang bertulis “Ghubbah Al-Haddad”. Namun saat hendak menghancurkan gapura, petugas operator tanpa ba-bi-bu ngacir meninggalkan mesin penghancur itu. Si wartawan sempat mendengar gumaman operator yang mengaku ketar-ketir melihat sosok manusia besar di depan gapura.

“Kesaktian” makam keramat itu bukan isapan jempol. Mbah Priok, begitu penghuni makam dikenal warga, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

Habib Ali Al-Idrus 38 tahun pengurus makam menuturkan Habib Hasan lahir di Ulu Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1727. Menjelang dewasa, ia belajar agama Islam di Yaman Selatan. Setelah beberapa tahun, Habib Hasan kembali ke Palembang.

Pada tahun 1756, Habib Hasan Al-Haddad pergi ke Jawa bersama Habib Ali Al-Haddad dan 3 orang lainnya. Tujuan mereka untuk menyebarkan agama Islam dan mengunjungi makam pelopor Islam, seperti Habib Husein Alaydrus di Mesjid Luar Batang, Penjaringan Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya.
Di tengah laut, tentara Belanda berupaya menyetop dan menembaki perahu yang mereka tumpangi. Namun tidak ada satu peluru pun yang kena. Setelah dua bulan mengembara, rombongan itu dihantam badai di Pantai Utara Batavia. Badai berlangsung beberapa hari itu dan menghancurkan kapal yang tumpangi. Habib Hasan dan Habib Ali berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada perahu yang telah terbalik. Sementara tiga orang anggota rombongan lainnya tewas.

Kedua habib, sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad, itu terapung-apung selama 10 hari. Karena lemas Habib Hasan pun meninggal dunia di usia 29 tahun. Sementara Habib Ali bertahan dan menyelamatkan jenazah saudaranya. Mereka terdorong oleh ombak ke pantai sambil diiringi ikan lumba-lumba.

Penduduk pesisir melihat korban kapal karam ini dan memakamkan Habib Hasan. Tempat pemakaman di lokasi yang sekarang adalah Pondok Dayung, Pos 1, Pelabuhan Tanjung Priok. Nama Pondok Dayung diambil dari Bahasa Sunda, dayung pendek. “Nisan kepala dari dayung pendek sisa kapal,” kata Habib Ali kepada Tempo.

Sementara untuk nisan kaki digunakan pohon tanjung. Penduduk juga menaruh periuk nasi dari pecahan kapal di makam Habib Hasan. “Sehingga penduduk menyebutnya Tanjung Priuk hingga sekarang,” lanjutnya.

Dua puluh tiga tahun setelah pemakaman Habib Hasan, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka berupaya membongkar makam Habib Hasan. “Namun pekerjaan terhenti karena banyak kuli yang mati,” kata Habib Abdulloh 36 tahun, abang Habib Ali.

Kemudian pemerintah meminta bantuan seorang Kiai yang dapat berkomunikasi dengan Habib Hasan. Dari situ didapatkan bahwa Habib Hasan minta makamnya dipindahkan jika ingin membangun pelabuhan. “Pemindahan harus seizin adik Habib Hasan, yaitu Habib Zen yang tinggal di Ulu Palembang,” kata Habib Abdulloh menirukan permintaan leluhurnya itu. Habib Ali dan Habib Abdulloh adalah keturunan ke 6 Habib Zen.

Habib Zen pun mengizinkan Belanda merelokasi makam abangnya ke Jalan Dobo, Koja. “Saat diangkat jenazah masih seperti baru meninggal,” kata Habib Ali.

Pemerintah Belanda menyediakan lahan seluas 7 hektare dan ghubah (bangunan kompleks makam) seluas 16×16 meter. Bangunan dengan atap berbentuk joglo dan berdinding putih ini masih berdiri tegak hingga kini. Di dalamnya, selain makam Habib Hasan, juga terdapat 8 makam anggota keluarga lainnya.

Menurut Habib Abdulloh setiap minggunya, setiap malam Jumat lima ratusan orang menjambangi makam ini. “Mereka menghadiri majelis tadzkir,” katanya.

Berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, artis bahkan petinggi negara seperti Abdurrahman Wahid pernah berkunjung kesana. “Salah satunya adalah SBY 2 bulan sebelum pelantikan (2004),” kata Habib Ali.

Pengunjung kebanyakan tidak diizinkan masuk oleh abang-adik penjaga makam itu. “Harus keturunan Sayid atau Habib (pemuka agama atau keturunan Nabi),” kata Habib Abdulloh.

Namun ketenangan Mbah Priok terus terusik. Pada 22 Desember 2004, PT Pelindo II berupaya menggusurnya untuk perluasan pelabuhan. Upaya gagal itu dikaitkan ahli waris dengan bencana yang menimpa Indonesia. Tiga hari kemudian, tsunami menghantam Aceh.

Menurut kuasa hukum ahli waris, Yan Juanda, Makam Mbah Priok merupakan “pasak bumi” Jakarta Utara. “Saya mohon, jangan ada lagi upaya untuk menghancurkannya,” katanya di depan Wakil Gubernur Jakarta Prijanto dan Direktur Utama Pelindo II RJ Lino, Kamis kemarin.

Yan mengatakan, pemerintah dan Pelindo sebaiknya belajar dari sejarah. “Pemerintah Belanda saja minta izin keluarga untuk memindahkan makam,” katanya.

Kalau pun pelabuhan perlu berbenah, keberadaan makam keramat tidak perlu digusur. “Di Singapura, arah jalan tol digeser untuk menghormati makam habib,” ujar Yan.

Usai dibisiki tentang kekeramatan makam Mbah Priok oleh seorang ulama di Cirebon pada 2005, Yan menyampaikannya ke Fauzi Bowo, yang saat itu Wakil Gubernur. “Dia diminta untuk menjaga makam,” kata Yan. Sekarang dia dan para ahli waris menagih janji itu.

Sumber Tempo Interaktif

Baca Selengkapnya......

Rabu, 21 April 2010




Allhamdulillah segala puji bagi Alloh SWT serta Sholawat semoga tercurah Atas baginda Nabi Rosulillah SAW keluarga, kerabat tabi'in semuanya Amin.

Cah Penisihan Blog Berawal dari niat Berthalabul ilmi di dunia maya, hususnya dalam khasanah pendidikan dan budaya islam yang ada di Nusantara yang telah dirintis oleh para Wali Alloh SWT, sehingga timbul niatan untuk menuangkannya pada laman blog . dan tentunya semoga niat serta amal kami ini menjadikan Amal Jariah dan di terimaNya amin.

Isinya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan islam ( pendidikannya serta budayanya ) dan masih kadang isi tulisannya tidak karuan serta masih banyak artikel para blogger yang yang kami ambil.. Jadi mohon maklum, dimaafkan dan diberi masukan apabila ada sesuatu yang salah, kurang lengkap, tidak jelas dan sebagainya. Mohon maaf juga jika membalas commentnya agak telat atau keliru.

" Jazakumulloh Khairan "

Baca Selengkapnya......

RA Kartini murid Mbah Sholeh Darat


Salah satu muridnya yang terkenal tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah Mbah Shaleh Darat menjadi pelopor penerjemahan
al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Shaleh Darat, RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an. Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Shaleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Shaleh Darat. Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an. Mbah Shaleh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faid ar-Rahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seroang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “ Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” Melalui terjemahan Mbah Shaleh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya: Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqarah: 257). Dalam banyak suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. Namun sayangnya penerjemahan kitab ini tidak selesai karena Mbah Shaleh Darat keburu wafat

Sumber http://deteacher.blogspot.com/2009/09/kyai-sholeh-darat-semarang.html
Profil Mbah Sholeh Darat Semarang
KH Muhammad Saleh Darat Pelopor Penerjemahan Alquran dalam Bahasa Jawa

Ia menghadiahkan kitab tafsir Alquran pada salah seorang murid perempuannya yang menikah dengan bupati Rembang, RA Kartini.
Terjemahan Alquran dalam aneka versi bahasa, bukan hal asing lagi sekarang. Tapi, tidak di era akhir tahun 1800-an. Penjajah Belanda tidak melarang orang mempelajari Alquran, asal jangan diterjemahkan.
KH Muhammad Saleh Darat, seorang ulama asal Semarang, menabrak larangan tak tertulis itu. Dialah pelopor penulisan buku-buku agama dalam bahasa Jawa. Buku-bukunya sangat populer di zamannya, dan banyak digemari masyarakat awam. Karyanya ditulis dengan huruf Arab gundul (pegong), sehingga tidak dicurigai penjajah.
Alquran pun ia terjemahkan dengan huruf itu. Kitab Faid ar-Rahman merupakan kitab tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Satu eksemplar buku itu dihadiahkannya kepada RA Kartini ketika pahlawan nasional ini menikahi RM Joyodiningrat, bupati Rembang.
Kartini sungguh girang menerima hadiah itu. ”Selama ini surat Al Fatihah gelap bagi saya, saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekali pun, karena Romo Kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,” demikian Kartini berujar saat ia mengikuti pengajian Saleh Darat di pendopo Kesultanan Demak.
Anak prajurit Diponegoro
Saleh Darat lahir di Kedung Cemlung, Jepara, tahun 1820. Ayahnya, KH Umar, adalah seorang ulama yang pernah bergabung dengan Pangeran Diponegoro dalam perlawananannya melawan penjajah Belanda.
Sebagaimana umumnya anak kiai, ia melewati masa kecilnya dengan belajar agama. Mula-mula ia belajar pada KH Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Setelah itu, ia dibawa ayahnya ke Semarang untuk belajar pada beberapa orang kiai, antara lain KH Muhammad Saleh Asnawi Kudus, KH Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (mufti Semarang), KH Ahmad Bafaqih Ba’lawi, dan KH Abdul Gani Bima.
Setelah menamatkan pendidikan di Semarang, Saleh diajak ayahnya ke Singapura, Beberapa tahun kemudian ia bersama ayahnya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Sang ayah wafat di Makkah. Di kota itu ia tinggal selama beberapa tahun untuk menimba ilmu. Di sna pula, ia dianggap mumpuni untuk mengajar ilmu agama. Salah satu muridnya dari Indonesia adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Ketika pulang ke Semarang, ia membuka pesantren di daerah Darat, yang letaknya di pesisir pantai Semarang. Banyak muridnya yang di kemudian hari menjadi ulama terkenal, antara lain KH Hasyim Asy’ari; KH Mahfuz, pendiri Pondok Pesantren Termas, Pacitan; KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah; KH Idris, pendiri Ponpes Jamsaren, Solo; KH Sya’ban, ulama ahli falak. RA Kartini adalah juga seorang muridnya.
Saleh Darat selalu menekankan kepada para muridnya untuk giat menuntut ilmu. Inti sati Alquran, kata dia, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat.
Menulis banyak buku
Saleh darat adalah ulama yang mempunyai tradisi intelektual menuliskan buah pikirannya dalam bentuk buku. Buku-bukunya andara lain adalah Kitab Majmu’ah asy-Syariah, Al Kafiyah li al-’Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Pantas bagi Orang Awam), dan kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari buku Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al Ghazali.
Buku-buku lain karyanya adalah Kitab Al Hikam (Buku tentang Hikmah), Kitab Lata’if at-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Manasik al-Hajj, Kitab Pasalatan, Tarjamah Sabil Al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid, Mursyid al Wajiz, Minhaj al-Atqiya’, Kitab hadis al-Mi’raj, dan Kitab Asrar as-Salah.
Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus diterbitkan ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang. Buku-buku itu khususnya digunakan di kalangan pesantren dan majelis taklim di Jawa Tengah.
Ahli ilmu kalam
Saleh Darat juga dikenal sebagai pemikir di bidang ilmu kalam. Ia adalah pendukung paham teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Pembelaannya terhadap paham ini jelas kelihatan dalam bukunya, Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid. Dalam buku ini, ia mengemukakan penafsirannya terhadap sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan sepeninggal Belia, dan hanya satu golongan yang selamat.
Menurut Saleh Darat, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah.
Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.
Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya. Saleh Darat wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903 dalam usia 83 tahun.
( tri/dari pelbagai sumber )
Sumber http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=A1FUXVFXAVcH

Baca Selengkapnya......

ShoutMix chat widget
 

Modifikasi Blog Oleh Cah Penisihan